Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerita Pendek

Ketika Lidah Mulai Mengeluh (puisi)

Ketika lidah sudah lelah mengeluh Ketika hati sudah lelah berharap Ketika mata sudah lelah mencari Ketika tangan sudah lelah mengabaikan Ketika kaki sudah lelah menghampiri Ketika kepala sudah lelah berpikir jawaban Ada saatnya, dimana sujud berualang tak lagi syahdu Hanya tergugu di sudut ruang, obat sementara penghilangnya Semacam asam mefenamat untuk nyeri, padahal asam lambung tinggi Melupa sebentar, mengingat banyak kemudian Muara hati tetap sama Penyembuh segala lelah yang ada, pun sama Direktor dari segala drama, pun sama Produser, merangkap penulis skenario, penata artistik, pun sama Mengapa masih mau lelah, berharap pada yang papa? Jogja, 11 Mei 2018

Cerita Hujan 3 : Bersyukur

Gambar
Semua serba mendadak. Tiba-tida kami dekat. Tiba-tiba orang tua kami mengetahui tentang hubungan kami. Tiba-tiba menjadi gosip hangat antar tetangga. Tiba-tiba menjadi gempar. Lalu tiba-tiba lamaran. Jujur, kami mulai dekat sejak Bulan Juni. Dan proses lamaran sekitar Bulan Oktober. Singkat dan gosip-able :D Benar kata Mbak Uti,  bridezilla syndrome  ini benar-benar menguras emosi. Saya merasakan jiwa saya yang mudah sekali tergocang. Menjadi sensitif dan emosi mudah datang. Entah kadang marah-marah sendiri. Entah kadang menangis sendiri. Entah kadang menjadi tiba-tiba linglung mau mengerjakan yang mana dulu. Dan lain sebagainya yang itu sebelumnya belum pernah saya rasakan. Dan saya masih bisa bersyukur. Saya punya Allah, keluarga, dan tentu saja Mas N yang super duper sabar –meski kadang suka hilang kontrol saking lama sabarnya. Heu.

Cerita Hujan 2 : Istikhoroh

Gambar
Istikhoroh berasal dari   fiil madhi istakhyaro   yang berarti memilih. Saya memang tidak seharusnya melakukan sholat ini, toh tidak ada pilihan lain. Tapi saya tetap melakukannya. Meminta petunjuk. Toh, pada akhirnya separuh agama ini harus diperjuangkan. Bahkan dari awal perjalanan, apalagi dengan riwayat beberapa orang tidak suka jika kami bersama. Entah tanda apa yang dikirimkan oleh Allah setelah beberapa kali saya memohon petunjuk. Saya hanya merasa yakin saja. Pun juga dengan orang tua saya. Saya hanya berpikir, apapun yang terjadi dan dengan siapapun saya kelak, pasti juga cobaan itu selalu ada. Begitu saya meyakinkan diri.

Cerita Hujan 1 : Bertemu dan Menikah adalah Pilihan

Gambar
Assalamualaikum. Di tengah  bridezilla syndrome  ini, saya mencoba menulis untuk memulihkan jiwa (karena sampai saat ini saya masih percaya, menulis itu proses pemulihan jiwa). Saya akan memuali cerita hujan ini dengan pertemuan saya yang sesungguhnya bukan bertemu karena sebelumnya belum bertemu. Saya kenal Mas N sejak kecil. Dia tetangga saya, hanya beda RT. Kami jarang berinteraksi sebelumnya. Waktu kecil dia ikut belajar mengaji di rumah saya, tapi saya malah belajar mengaji di tempat lain. Saat usia sekolah, dia sekolah di sekolah dekat rumah, tapi saya sekolah di pesantren. Saat dia mulai bekerja, saya malah sekolah di luar kota. Sampai akhirnya saya kembali ke rumah setelah lulus. Saat itu saya bertemu dengan Mas N, dan masih biasa. Hingga suatu saat entah apa yang membuat kami menjadi tidak biasa. Sejak awal, Mas N bukan tipe orang yang sembrono. Dia serius dengan segala yang dikatakannya. Itu yang saya suka. Dia sopan. Dia bisa ngemong. Dia insya Allah oran...

Tariyem Kliwon

“Berita apa lagi, Jeng?” bukannya kemarin yang itu udah dibicarakan?” sahut Bu An. “Oh diulangi lagi maksudnya?” sahut Bu Sarti. “hfvhrtij%*&####.” Ini bukan rahasia lagi. Semua orang di kampung ini tahu, wanita yang sering pulang malam dan mengaku sebagai dosen yang mendapat jatah mengajar di malam hari itu adalah bohong belaka. Semua orang kampung juga tahu, wanita yang sering keluar rumah Pak Dali setiap petang itu bukan kemenakan Pak Dali. Kenapa semua diam tidak ada yang mau mengingatkan?             Namanya Tariyem Kliwon. Mbak Tari atau Miss Tee kami, orang kampung biasa memanggilnya. Sedikit aneh. Tetapi, ya sudahlah. Dia tak ingin diketahui nama aslinya yang, semua orang juga tahu, ndeso atau kampugan untuk ukuran tahun 2012. Tapi entah siapa yang mencari tahu berita tentang nama Tariyem Kliwon itu tersebar di kampung.             Berita tenteng Mbak ...

susuk

“Ceprut…prut…prut.” Suara semprotan air dari Paman membuatku geli. Aku membayangkan muka pasien Pamanku, pasti lucu sekali. Ah, Paman… Aku sedikit meyayangkan perbuatan Paman tersebut. Bagaimana bisa, Pamanku yang dulunya lulusan pondok pesantren salafiyah dan seorang guru ngaji yang disegani di desaku tiba-tiba berubah profesi, masih mending kalau menjadi guru agama di madrasah atau guru apa sajalah, yang penting ilmunya tidak berhenti tetapi bercabang karena diamalkan. Lha ini pamanku kok bisa-bisanya menjadi dukun susuk. Apa tidak mengherankan?