Postingan

Menampilkan postingan dengan label coret

Ketika Lidah Mulai Mengeluh (puisi)

Ketika lidah sudah lelah mengeluh Ketika hati sudah lelah berharap Ketika mata sudah lelah mencari Ketika tangan sudah lelah mengabaikan Ketika kaki sudah lelah menghampiri Ketika kepala sudah lelah berpikir jawaban Ada saatnya, dimana sujud berualang tak lagi syahdu Hanya tergugu di sudut ruang, obat sementara penghilangnya Semacam asam mefenamat untuk nyeri, padahal asam lambung tinggi Melupa sebentar, mengingat banyak kemudian Muara hati tetap sama Penyembuh segala lelah yang ada, pun sama Direktor dari segala drama, pun sama Produser, merangkap penulis skenario, penata artistik, pun sama Mengapa masih mau lelah, berharap pada yang papa? Jogja, 11 Mei 2018

Catatan Random : Menjadi

Kata orang, bercerita itu menguntungkan dalam dua hal. Yang pertama, melegakan diri sendiri. Yang kedua, dapat menjadi pelajaran bagi yang mendengarkan atau membaca cerita. Kata orang sih begitu. Dan aku percaya yang pertama. Karena aku suka menulis. Dan aku menjadi lega karenanya. Menjadi salah satu murid yang diterima di perguruan tinggi jurusan ekonomi pembangunan, awalnya membahagiakan. Sejak bersekolah di sekolah menengah pertama, aku selalu membayangkan manisnya pelajaran yang mempelajari perilaku manusia dalam menggunakan sumber dayanya tersebut. Di sekolah menengah atas, bahkan aku sering ditunjuk untuk membacakan hasil neraca atau laporan laba rugi hasil pengerjaanku. Semakin membuatku (besar kepala) jatuh cinta. Ya, aku mencintai pelajaran ini sejak lama. Namun, ketika kuinjakkan kaki di perguruan tinggi, ternyata bayanganku mengenai ekonomi yang hanya bercerita tentang perilaku manusia dalam mengalokasikan sumber dayanya, buyar. Memang pada dasarnya ekonomi itu yang...

#Masak : Mi Kering Pedas Manis a.k.a Semorodono tanpa kacang

Gambar
Efek dari beberapa bulan uang beasiswa tidak cair, makanya mencari solusi agar biaya hidup sedikit ditekan, apalagi dengan dikuranginya subsidi BBM sehingga harga barang-barang meningkat. Makanya ada inisiatif buat makanan kering yang bisa dipakai untuk lauk. Awalnya mau buat tempe kering, tapi pas pertama buat kurang kering hasil masakannya. Kata Simbok, takut nanti nggak tahan lama. Ya udah buat yang kering pakai bahan lainnya. Muncullah ide mi kering dengan bumbu tempe kering. Kalau disini namanya semorodono, bahannya biasanya mi dan kacang tanah, singkong, kentang dan lain-lain. Kalau disini buatnya Cuma pakai mi aja, tanpa kacang.

#Masak : Sushi Lele

Gambar
Minggu ini karena memang biasanya tidak melakukan apa-apa selain 'mbabu' alias nyuci-nyapu-ngepel-bersihbersihkos, aku sama Nadiya dan Wulan berencana masak-masak. Masak-masak kali ini, kami membuat sushi lele. Kenapa lele? karena ikan salmon mahal :D Bahan-bahannya nyari yang mudah dan murah juga, seperti: -3 lembar nori (kalau aku pakai yang merk 'Mamasuka') -3 ekor lele, filet (tusuk dengan tusuk sate, lalu goreng dengan tepung bumbu sampai kering) -Nasi secukupnya (biasanya nasi beras & ketan, tapi kalau beras aja nggak apa-apa yang penting dimasak pulen) -1/2 buah wortel, potong panjang, lalu rebus -1/2 buah mentimun, buang isinya, potong panjang, lalu rebus -Sosis, goreng -3 lembar telur dadar (dibuat dari 1 telur ditambah 2 sendok tepung, lalu digoreng tipis) -Tepung bumbu untuk menggoreng lele

#Masak : Kue Kacamata

Gambar
Tiba-tiba pengen ngeshare kue dari bahan singkong yang diajarkan mamak kemarin waktu buat takjil :) Namanya kue kacamata. Ceritanya, di rumah lagi banyak singkong yang habis ambil dari sawah. Jadi, sekalian dimanfaatkan buat takjil aja.. Bahannya mudah, dan bisa didapat di warung-warung: - 1/2 kg Singkong, diparut (kalau pengen lebih mudah, digiling) - Gula pasir, secukupnya - Vanili, 1 bungkus - Pisang (pisang apa, sesuai selera), 5 buah - Daun pandan - Garam, sedikit - Gula jawa, dicairkan (untuk sausnya) - Daun pisang, untuk membungkus

Catatan Random : “­...kepada Allah Yang Maha Lembut”

Beberapa kata-kata yang menarik darinya… “Masyarakat tak peduli seberapa hebatnya kita, yang mereka pedulikan, apakah keberadaan kita memberikan manfaat untuk mereka?” “Syukurilah dan nikmatilah, boleh jadi kesibukan kita sedang dimimpikan banyak orang di luar sana.”

Waduk Beton Ponjong

Gambar
9 Januari 2013 Aku punya teman alumni SMA (MA Nurul Ummah) angkatan 2008, yang memang suka pergi-pergi kalau liburan kampus. Kami memang tidak pernah ketemu setelah lulus dari MANU karena kami diterima di kampus yang berbeda-beda, kalaupun sama, fakultasnya yang berbeda. Makanya, kami (lebih-lebih aku) menantikan acara kumpul bersama dengan mereka yang tentunya setiap liburan semester atau dua kali dalam setahun. Oh iya, kami menamai kelompok kami sejak masih sekolah dengan nama HANETHER, yang berarti Happy Nelongso Together (Seneng Susah tetap Bersama). Memang, kami hanya 28 orang dan jika berkumpul mungkin hanya 8-12 orang. Sudah mentok. Haha Liburan kali ini, kami berencana untuk ke Gunung Kidul, sebuah kabupaten yang ada di Yogyakarta dan tempatnya paling tinggi, tepatnya ke sebuah waduk yang ada di Kecamatan Ponjong, Gunung Kidul. Sekitar jam 10 pagi, kami menuju kesana. Sebelumnya kami, berseblas-orang, berkumpul di dekat pondok. Perjalanan dari Kotagede ke P...

Kebun Buah Mangunan

Gambar
Bagi Embakku (begitu aku memanggil mbak sepupuku), ini adalah pertama kalinya kesana… Entah kenapa diberi nama kebun buah. Kami kira dulu, disana bisa makan buah semaunya. Setelah sampai sana, kami hanya menjumpai beberapa pohon buah seperti pohon rambutan, batang pisang, pohon kers, dan beberapa pohon yang kami tidak tahu namanya, itupun banyak yang belum berbuah. Namun, di kebun buah tersebut ada hewan langka sepertinya, yaitu Rusa Timor, hasil penangkapan yang bekerja sama dengan BKSDA Yogyakarta dan Koperasi Kebun Buah. Namun, kami tidak hanya membawa kekecewaan disana. Setelah kami menyelusuri jalan setapak, kami menemukan danau buatan dan tempat bermain seperti ayunan dan alat brmain lain di bawah rimbunnya pohon kers. Lalu kami melanjutkan perjalanan menanjak hingga tiba di puncak kebun buah yang subhanallah indahnya. Pemandangan hutan dan sungai yang ada di depan kami. Mungkin ini lah yang dibanggakan oleh masyarakat di sekiran kebun buah di daer...

curcol ;)

Siapa bilang bersyukur itu mudah? Mengucap   ‘alhamdulallah’ saja terkadang masih ada rasa kurang atas nikmat yang Allah berikan. Itu menurutku. Manuasia banget kan? :D Tadi baru saja aku menemui Ibu Kosku (yang sudah menganggap kami berenam ini anaknya) untuk membayar uang satu tahun kontrakan rumah. Seperti biasa, kami (aku dan Mbak A) dan Ibu Kos bercerita panjang lebar. Curcol lah :D. maklum, suaminya sedang keluar. Ibu Kos bilang saudaranya baru saja kecelakaan. Patah tulang, lalu ‘njagakke’ uang kontrakan rumah ini untuk biaya tersebut. Habis cerita kecelakaan itu, Ibu Kos malah merembet cerita yang lainnya. Nikah yang dulu tertunda karena H-7 ibunya meninggal-lah, pas hari H adiknya meninggal-lah. Akhirnya pernikahan ditunda 2 bulan, eh ternyata Tuhan berkehendak lain. Sebelum hari H itu neneknya malah masuk rumah sakit. (kami menghela nafas). Tentang benjolan-benjolan yang (kata dokter) lemak yang nggak menyatu dengan darah-lah, tumor jinak-lah, kista-lah, sam...

Hai

"Hai." Sapamu malam itu. "Bagaimana kabarmu? Sudah lama kita tak pernah saling sapa, bahkan sekedar 'hai' saja sudah tidak pernah lagi kudengar lima bulan ini. Mungkin, kau sudah terlalu sibuk dengan hal-hal lain yang mumbuatmu lupa denganku atau apa kau sudah lupa?" Kataku melalui sebuah pesan yang menurutku sangat tak singkat ini. "Apakah Jogja masih selembut dahulu, meninabobokkan hatiku dengan sentuhan lembut angin sorenya? Apakah Jogja masih semanis gudeg yang selalu menghadirkan banyak hal manis yang sulit terlupakan? Apakah Jogja manis seramah dahulu, menyapaku dengan senyum maha ramahnya? Ah Jogja, kota lembut selembut hatimu, kota manis semanis senyummu, kota ramah seramah sapaanmu." Lalu di seberang sana, kau tersenyum, "Aku sangat baik-baik saja." "Masih di Jogja?" * sending failed * Surabaya, 25 Maret 2013

Namanya Ibu

Kalau kau ingin bertanya tentang cinta, tanyalah ibumu. Ibumu lebih tahu tentang cinta. Ibumu lebih tahu apa sebenarnya cinta itu. Kalau kau ingin bertanya tentang cinta, tanyalah ibumu. Ibumu yang setengah mati melahirkanmu. Ibumu yang bahagia melihatmu menangis ketika itu. Lalu dari air susunya, keluar kehidupanmu. Kalau kau ingin bertanya tentang cinta, tanyalah ibumu. Orang yang selalu terbangun ketika kau menangis di tengah malam. Orang yang selalu terbangun ketika melihatmu terganggu oleh nyamuk atau serangga lain.

Aku (Tidak) Takut

Ternyata terbaik-Mu bukan terbaikku, Tuhan, makanya aku sempat shock untuk beberapa saat ketika melihat hal yang tak menyenangkan di depan mataku Ternyata terbaik-Mu bukan terbaikku, Tuhan, makanya aku sempat menagis lalu memaki-maki diri sendiri yang begitu ‘sembrono’ dalam menjaga amanah yang telah orang lain berikan kepadaku Ternyata terbaik-Mu bukan terbaikku, Tuhan, makanya aku sempat melihat dunia seperti suram ketika aku mendengar kabar itu Ternyata terbaik-Mu bukan terbaikku, Tuhan… Mohon berikan pengertian bahwa ini adalah terbaik-Mu dan juga terbaikku, meski bukan untuk saat ini Ternyata terbaik-Mu bukan terbaikku, Tuhan… Bahwa Kau yang mengertiku lebih dari aku mengerti diriku sendiri 30 Januari 2013 Sebuah penyesalan

Bandung

Gambar
#the beautiful life :*

4 Huruf Itu..

Aku lupa bahwa rasa sayang itu terlalu global untuk disamakan persepsinya, begitu sebaris kalimat yang masih terngiang di kepalaku ketika kami sedang ngobrol di kereta perjalanan Bandung-Surabaya. Ah ternyata persamaan persepsi itu sangat penting, agar seorang komunikator dapat menyampaikan apa yang dimaksudkan kepada komunikannya. Ini bukan masalah 'disalah artikan' :)

lawang

              Kau menyebutnya lawang. “Kenapa?” begitu tanyaku ketika kau menunjukkan buku lumayan tebal dan sampulnya sudah berantakan. Disana sini ada bekas gigitan rayap yang membuat buku itu menjadi angker. Buku kuno, batinku. Bukankah lawang itu pintu. Daun pintu maksudku, dalam bahasa Jawa. Aku bertanya-tanya dalam hati.             “Dari sini aku belajar hidup, Tan.” Kau merenung. Seperi mengingat-ingat apa yang kau susun untuk dibicarakan denganku sore ini. Lalu tersenyum sendiri.             “Hei, ada apa, Dan?” ___             Masa itu tak pernah hilang dari ingatanku. Rebutan kokoa yang dipetik dari tetangga kita. Lalu bermain petak umpet, yang pastinya kau selalu curang. Bermain boneka, bermain kelereng, gobak sodor , sampai ketika oran...

raisya

  Gempar. Gaduh. Bising. Pagi ini ketika aku memasuki kelasku , aku tak menemukan wajah-wajah kebosanan ketika akan mulai pelajaran Kewarganegaraan, yang notabene, hampir semua anak tidak menyukai gurunya. Aku benar-benar heran. Kuletakkan tasku di meja yang memang biasa kutempati. “Ada anak baru di kelas sebelah. Cewek.” Adi membisikiku. Aku mengangguk. Paham. Namanya Raisya. Kutahu dari seorang temanku yang benar-benar mengaguminya, yang tentu saja Adi. Hmm, cantik, baik, ramah, supel, kita semua mengaguminya. Plus pintar. Hampir sempurna. Dia anak baru pindahan dari SMA di Jakarta. Kalau aku laki-laki, aku akan langsung jatuh cinta padanya, ketika semua laki-laki juga berpikiran begitu. “San, cinta itu dating katika seseorang sedang dilanda kebimbangan.” Adi mulai mengajakku bicara. Sejak bisa mengenal Raisya, Adi begitu puitis ketika berbicara. Kalau bisa kukatakan, lebay. Berlebihan. Tapi mungkin memang seperti itulah ketika orang sedang mengagumi seorang wanita...

amplop biru

Science, Felia Rahmawati, 01-018-090-7, nilai: 100…. "Yes !!" aku berucap dalam hati. Teman-teman merubungiku, mereka bertanya bagaimana cara beljarku. Aku hanya tersenyum sambil menjawab pertanyaan mereka dengan sungkan. "Aku hanya membaca dan menghafal, itu saja!" jawabku sambil berlalu. Aku berlari supaya aku cepat bertemu Ibu. Aku bangga, senang dengan kemampuanku sendiri. Walaupun, yach, teman-teman kebanyakan mendapat nilai dibawah 78. Thanks god! ***