Postingan

Hai

"Hai." Sapamu malam itu. "Bagaimana kabarmu? Sudah lama kita tak pernah saling sapa, bahkan sekedar 'hai' saja sudah tidak pernah lagi kudengar lima bulan ini. Mungkin, kau sudah terlalu sibuk dengan hal-hal lain yang mumbuatmu lupa denganku atau apa kau sudah lupa?" Kataku melalui sebuah pesan yang menurutku sangat tak singkat ini. "Apakah Jogja masih selembut dahulu, meninabobokkan hatiku dengan sentuhan lembut angin sorenya? Apakah Jogja masih semanis gudeg yang selalu menghadirkan banyak hal manis yang sulit terlupakan? Apakah Jogja manis seramah dahulu, menyapaku dengan senyum maha ramahnya? Ah Jogja, kota lembut selembut hatimu, kota manis semanis senyummu, kota ramah seramah sapaanmu." Lalu di seberang sana, kau tersenyum, "Aku sangat baik-baik saja." "Masih di Jogja?" * sending failed * Surabaya, 25 Maret 2013

Namanya Ibu

Kalau kau ingin bertanya tentang cinta, tanyalah ibumu. Ibumu lebih tahu tentang cinta. Ibumu lebih tahu apa sebenarnya cinta itu. Kalau kau ingin bertanya tentang cinta, tanyalah ibumu. Ibumu yang setengah mati melahirkanmu. Ibumu yang bahagia melihatmu menangis ketika itu. Lalu dari air susunya, keluar kehidupanmu. Kalau kau ingin bertanya tentang cinta, tanyalah ibumu. Orang yang selalu terbangun ketika kau menangis di tengah malam. Orang yang selalu terbangun ketika melihatmu terganggu oleh nyamuk atau serangga lain.
Gambar
#hanether'8 #tamanbuah #dlingo #februari2013 #awesome

Aku (Tidak) Takut

Ternyata terbaik-Mu bukan terbaikku, Tuhan, makanya aku sempat shock untuk beberapa saat ketika melihat hal yang tak menyenangkan di depan mataku Ternyata terbaik-Mu bukan terbaikku, Tuhan, makanya aku sempat menagis lalu memaki-maki diri sendiri yang begitu ‘sembrono’ dalam menjaga amanah yang telah orang lain berikan kepadaku Ternyata terbaik-Mu bukan terbaikku, Tuhan, makanya aku sempat melihat dunia seperti suram ketika aku mendengar kabar itu Ternyata terbaik-Mu bukan terbaikku, Tuhan… Mohon berikan pengertian bahwa ini adalah terbaik-Mu dan juga terbaikku, meski bukan untuk saat ini Ternyata terbaik-Mu bukan terbaikku, Tuhan… Bahwa Kau yang mengertiku lebih dari aku mengerti diriku sendiri 30 Januari 2013 Sebuah penyesalan

Bandung

Gambar
#the beautiful life :*

4 Huruf Itu..

Aku lupa bahwa rasa sayang itu terlalu global untuk disamakan persepsinya, begitu sebaris kalimat yang masih terngiang di kepalaku ketika kami sedang ngobrol di kereta perjalanan Bandung-Surabaya. Ah ternyata persamaan persepsi itu sangat penting, agar seorang komunikator dapat menyampaikan apa yang dimaksudkan kepada komunikannya. Ini bukan masalah 'disalah artikan' :)

R

Life, the wonderful dream Never meets with reality

susuk

“Ceprut…prut…prut.” Suara semprotan air dari Paman membuatku geli. Aku membayangkan muka pasien Pamanku, pasti lucu sekali. Ah, Paman… Aku sedikit meyayangkan perbuatan Paman tersebut. Bagaimana bisa, Pamanku yang dulunya lulusan pondok pesantren salafiyah dan seorang guru ngaji yang disegani di desaku tiba-tiba berubah profesi, masih mending kalau menjadi guru agama di madrasah atau guru apa sajalah, yang penting ilmunya tidak berhenti tetapi bercabang karena diamalkan. Lha ini pamanku kok bisa-bisanya menjadi dukun susuk. Apa tidak mengherankan?

lawang

              Kau menyebutnya lawang. “Kenapa?” begitu tanyaku ketika kau menunjukkan buku lumayan tebal dan sampulnya sudah berantakan. Disana sini ada bekas gigitan rayap yang membuat buku itu menjadi angker. Buku kuno, batinku. Bukankah lawang itu pintu. Daun pintu maksudku, dalam bahasa Jawa. Aku bertanya-tanya dalam hati.             “Dari sini aku belajar hidup, Tan.” Kau merenung. Seperi mengingat-ingat apa yang kau susun untuk dibicarakan denganku sore ini. Lalu tersenyum sendiri.             “Hei, ada apa, Dan?” ___             Masa itu tak pernah hilang dari ingatanku. Rebutan kokoa yang dipetik dari tetangga kita. Lalu bermain petak umpet, yang pastinya kau selalu curang. Bermain boneka, bermain kelereng, gobak sodor , sampai ketika oran...

raisya

  Gempar. Gaduh. Bising. Pagi ini ketika aku memasuki kelasku , aku tak menemukan wajah-wajah kebosanan ketika akan mulai pelajaran Kewarganegaraan, yang notabene, hampir semua anak tidak menyukai gurunya. Aku benar-benar heran. Kuletakkan tasku di meja yang memang biasa kutempati. “Ada anak baru di kelas sebelah. Cewek.” Adi membisikiku. Aku mengangguk. Paham. Namanya Raisya. Kutahu dari seorang temanku yang benar-benar mengaguminya, yang tentu saja Adi. Hmm, cantik, baik, ramah, supel, kita semua mengaguminya. Plus pintar. Hampir sempurna. Dia anak baru pindahan dari SMA di Jakarta. Kalau aku laki-laki, aku akan langsung jatuh cinta padanya, ketika semua laki-laki juga berpikiran begitu. “San, cinta itu dating katika seseorang sedang dilanda kebimbangan.” Adi mulai mengajakku bicara. Sejak bisa mengenal Raisya, Adi begitu puitis ketika berbicara. Kalau bisa kukatakan, lebay. Berlebihan. Tapi mungkin memang seperti itulah ketika orang sedang mengagumi seorang wanita...

amplop biru

Science, Felia Rahmawati, 01-018-090-7, nilai: 100…. "Yes !!" aku berucap dalam hati. Teman-teman merubungiku, mereka bertanya bagaimana cara beljarku. Aku hanya tersenyum sambil menjawab pertanyaan mereka dengan sungkan. "Aku hanya membaca dan menghafal, itu saja!" jawabku sambil berlalu. Aku berlari supaya aku cepat bertemu Ibu. Aku bangga, senang dengan kemampuanku sendiri. Walaupun, yach, teman-teman kebanyakan mendapat nilai dibawah 78. Thanks god! ***

Aku Akan Bercerita

aku akan bercerita, mungkin ini akan terlalu biasa untuk didengar. tapi bagiku, ini adalah hal terindah yang pernah aku rasakan. jika kalian pernah merasakan segelas teh. yah, segalanya berawal dari sana….ketika pagi seperti biasa aku membaca selembar koran, hingga kutemukan sebuah tulisa dengan judul ‘segelas teh’. siapa yang membuatnya? dialah dia…. aku menyukainya, itulah yang kurasakan. aku tidak tau dari segi mana. hati kecilku memang berharap diapun begitu. walaupun aku memang tidak menginginkan dia menjadi kekasihku. bukankah setiap sesuatu yang kita cintai tidak harus menjadi milik kita? tidak apa jika dia tidak mencintaiku. saat ini aku hanya ingin merasakan perasaan ini. aku hanya ingin menikmatinya sampai waktu berbaik hati menawarkan sebuah pelabuhan yang indah. seperti Tuhan yang sedang menyiapkan sesuatu yang indah untukku pada saatnya nanti….